Langsung ke konten utama

Seminggu makan Mie Ongklok

Mie Ongklok, hidangan istimewa sehat dan murah ini akan kita jumpai saat memasuki udara dingin Wonosobo. Ini menu wajib kalau saya kebetulan singgah di kota di lereng gunung sindoro sumbing. Tidak ke Wonosobo kalau tidak makan Mie Ongklok, kira kira begitulah slogannya hehehehhe.

Apa sih Mie Ongklok ?
Mie ongklok adalah mie kuning rebus yang dilengkapi dengan berbagai sayuran seperti kol dan potongan daun kucai. Yang membedakan dengan mie rebus lainnya karena mie ongklok menggunakan kuah yang kental berkanji yang disebut loh. Kuah atau loh ini berasal dari pati yang dicampur gula jawa, ebi, serta rempah. 

Diberi nama mie ongklok karena menggunakan alat Ongklok untuk membantu merebus mie ini. Ongklok adalah semacam keranjang kecil yang dipakai untuk membantu perebusan mie. Penggunaan alat ongklok  khas wonosobo sehingga diberikanlah nama mie rebus ini menjadi mie ongklok, ini kata beberapa penjual yang sempat saya ajak ngobrol sembari menikmati lezatnya mie ongklok.

Awal kali saya merasakan mie ongklok saat melintasi Wonosobo dalam perjalanan keliling tilik radio komunitas di Jawa Tengah. Dan menjadi menjadi semacam kewajiban kalau ke wonosobo ya malam mie ongklok. 

Seminggu dengan Mie Ongklok
Akhir Nopember 2015, saya mendapat kesempatan dari Pemkab Wonosobo dan Infest Jogja untuk menemani Sekretaris Desa dan Relawan Pencerah Desa se Wonosobo belajar tentang Penyusunan RPJMDes (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa) berbasis aset. Karena banyaknya desa, maka pelatihan di bagi dalam 3 (tiga) angkatan, dimana setiap angkatan ada 3 kelas dengan 6 fasilitator. 

Malam pertama di Wonosobo setelah pelatihan, saya bersama Suci Yogya, Mas Bintang Kebumen, Mas Muiz Jogja dan Cak Sadad Jombang menikmati Mie Ongklok dipinggir jalan dekat sri ratu. Mungkin karena saking laparnya Geblek (seperti Aci yang di goreng), Tempe Kemul dan Sate di meja kami habis, sehingga harus menjarah ke meja yang lain. Jamaah konsumen mie ongklok malam itu terpuaskan, sambil sedikit merefleksikan pelatihan hari pertama. Sayangnya fandi tidak gabung makan mie ongklok karena sedang asyik menyiapkan materi untuk hari kedua, sehingga fandi malam itu cukup makan di angkringan sebagaimana kebiasaan di jogja. mungkin fandi tetap ingin merasakan suasana di jogja walau sedang di wonosobo hehehe. Makasih ya mas muiz, yang traktir kami semua heheh

Malam kedua, 5 anggota Tim Fasilitator angkatan 1 pulang dan berganti dengan yang Tim yang kedua, saya ditinggalkan sendirian di Wonosobo hik hik hik. Malam itu makan sendirian.................. aduhhhhh gak asyik makan sendirian ya hik hik hik. Dari hotel Kresna saya jalan kaki menuju alun alun, sampai di dekat alun alun bingung mau pilih makanan apa, ah gak mau mikir lama mau makan apa, pas di pinggir alun alun ada gerobak mie ongklok yang sedang melayani 1 orang pembeli, duduklah aku di kursi plastik itu sambil pesen mie ongklok. lumayan deh ada temen makan sambil ngobrol dengan mase yang jual mie. Sukses makan mie ongklok yang harganya cuma 5 ribu coyyyy, pulang ke hotel sambil, tak lupa beli tempe kemul jaga jaga kalau kelaparan di malam nanti hehehe.

Malam ketiga, dengan mbak Arum dan Mbak Suci Solo kami berjalan ke arah alun alun. Mbak dewi dan mbk titik solo tidak bersama kami karena ada ketemuan dengan temen temen LPTP di wonosobo. Mbak Suci penasaran dengan mie ongklok, maka kami bersepakat makan mie ongklok di depan alun alun. eh ada cerita menarik sekaligus menyebalkan lho,,,,,,. Saat kami makan ada dua orang yang di belakang kami, salah satunya makan mie ongklok. Tak lama kemudian mangkok itu ditaruh di dekat taman dan tidak ada lagi orang yang tadi makan, bapak yang jual mie ongklok kaget dan mencari cari yang makan tadi yang ternyata belum bayar. Kami bertiga kaget kok ada orang yang tegas ya enggak bayar mie ongklok, padahal murah lho. si bapak keliling terus mencari dan tetap tidak ditemukan siapa yang makan dan tidak bayar tadi. Saat ngobrol dengan bapaknya, ternyata ini bukan yang pertama, katanya dulu ada 8 orang yang makan dan pergi tanpa bayar, tega ya. ehhh pemirsa bapaknya ini sudah jualan mie ongklok sejak 27 tahun yang lalu lho. Kata bapaknya, rejeki sudah ada yang mengatur, suka duka jual mie ongklok sudah dijalani dengan ikhlas. Mbak suci yang iba dengan bapak penjual mie ongklok, selain bayarin 3 mie ongklok yang kami makan, juga bayarin yang di makan orang tak dikenal tadi. makasih mbak suci dah traktir kami..... walau mbak suci kurang begitu suka dengan mie ongklok hehehe

Malam ke empat, saya sudah merencanakan makan dengan mbak arum, eh tiba tiba mas budi datang dengan mas hasan wonosobo, kami ditraktir makan mie ongklok lagi. walau warung yang ini agak lebih keren di banding sebelumnya, tapi tetep saja enaknya mie ongklok sama sama maknyussnya. Malam kelima, atau malam terakhir di wonosobo, akhirnya aku putuskan untuk menyelesaikan perjalanan di wonosobo dengan mie ongklok lagi, sehingga tiada malam tanpa mie ongklok menjadi taglinenya wkwkwkk.

Wonosobo itu mie ongklok, dan mie ongklok itu wonosobo. awas kalau aku ke wonosobo lagi, tak ongklok ongklok mie nya





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menyoal Anjloknya Dana Desa 2026: Di Mana Kedaulatan Desa?

Menyoal Anjloknya Dana Desa 2026:  Di Mana Kedaulatan Desa?  Oleh: Sinam Sutarno  (Pegiat Perkumpulan Dharma Desa) Sejarah mencatat bahwa lahirnya UU No. 6 Tahun 2014 tentang Desa bukan sekadar soal bagi-bagi uang dari Jakarta. Itu adalah momentum kemenangan bagi kedaulatan warga desa untuk menentukan nasibnya sendiri. Tapi hari ini, melihat rincian APBN 2026, saya merasa kita sedang berjalan mundur ke era sentralisme lama. Semangat "Membangun dari Pinggiran" yang dulu digembar-gemborkan pemerintah kini terasa seperti pengkhianatan pada komitmen memperkuat kedaulatan desa. Pemerintah mungkin pamer angka Rp60,57 triliun sebagai pagu Dana Desa tahun 2026. Kelihatannya besar, tapi bagi saya ini jelas pembodohan kalau kita tidak jeli membedah isinya. Dibandingkan tahun lalu yang mencapai Rp71 triliun, angka ini sudah merosot tajam. Namun, masalahnya bukan cuma soal nominal yang susut, tapi soal bagaimana tangan-tangan pusat mulai "menggarong" hak desa dari dala...

Regulasi Radio Darurat di Indonesia

Regulasi Radio Darurat di Indonesia Sinam M Sutarno Relawan Tim Radio Darurat - JRKI Penyelenggara informasi menjadi kewajiban semua orang dalam upaya Penanggulangan Bencana, hal ini termaktub dalam UU No 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan bencana. Di dalam Pasal 27 huruf c menegaskan bahwa “ Setiap orang berkewajiban: memberikan informasi yang benar kepada publik tentang penanggulangan bencana. Informasi yang benar tentu akan sangat menentukan bagaiman proses Penanggulangan bencana berjalan dengan Cepat, tepat dan efektif. Semakin Cepat informasi disampaikan, maka semakin Cepat Tindakan baik penyelamatan, pemenuhan kebutuhan penyintas, evakuasi dan Tindakan lainnya akan berjalan dengan Cepat pula. Dengan Demikian media penyampaian informasi dan komunikasi yang Cepat akan sangat Menunjang bagaimana distribusi informasi dan jalinan komunitas Penanggulangan Bencana bisa berjalan dengan baik. Salah satu media yang bisa jadi jembatan informasi dan komunikasi Penanggulangan bencana ...

Kudu Gugat Sopo

Sik sik sik  Sakjane opo to karepmu Jare nyuwun karahayon, keslametan  Urip aduh soko beboyo Nir ing sambikolo Nanging  Tindak tandukmu Solah tingkahmu Adoh, adoh soko panyuwunanmu iku Malah sajak ngawe awe tekane ciloko  Hanggadang  gadang praptane beboyo Siro entengake karahayon iku Among pamrih kamulyan semu Bumi den pulosoro Den keduk den keruk kanti murang toto Babar blas tanpo subo sito Yo ngono kuwi anggonmu bekti marang Ibu Bumi Opo maneh yen mung kancintrakaning liyan Wis mesti wae siro kiwakno Jane yo ora kurang kurang Wisiking gusti ing jagat gumelar Nanging pancen siro budeg Nyoto nalarmu cubluk Lan atimu wis remuk Nanging aku ora kelangan pangarep arep Muga muga ndang bali warasmu Bali marang urip sejatimu Kang rinengkuh welas asihing Gusti Nyawiji marang Ibu Pertiwi Solo 12 April 2016,  @Sinam_MS  Harus Gugat Siapa Sebentar sebentar Apa sih maumu Katanya m...