Langsung ke konten utama

Lover, Hater, Voter dan Viewer

Mungkin 4 hal inilah masyarakat akan mengelompokkan dirinya kala pesta demokrasi datang, entah itu pilpres, pilkada, pemilu legislatif atau bahkan Pilkades. Penggolongan ini sendiri bisa saja alamiah tapi juga sangat mungkin di design untuk kemenangan calon yang diusung oleh para konsultan politik. Lover dan hater tentu sudah sangat mudah masuk ke radar survey survey , maka keberadaanya menjadi sangat penting untuk menarik dukungan dari voter maupun viewer. Peran dominan lover dan hater ini yang memang awalnya untuk strategi pemenangan memiliki dampak buruk bagi satu kata besar masyarakat atau rakyat yang sesungguhnya satu itu. Garis demarkasi yang terlalu tebal ini membuat kebersamaan itu renggang seolah air dan minyak yang susah berbaur. Padahal sesuungguhkanya sama sama air atau sama sama minyak.

“wong seneng ora kurang pangalem, weh sengit ora kurang panganggit” mungkin kalimat yang menggambarkan akan keberadaan lover dan hater. Dalam bahasa Indonesia artinya “Orang cinta tak akan kekurangan Sanjungan, orang benci tak akan kurang cacian” . Seorang lovers punya kemampuan yang luar biasa untuk memandang kelebihan setiap yang di cinta , hampir setiap kelebihannya dia tahu dan tak lelah untuk mencari tahu. Pun sebaliknya bagi haters, mereka sangat jeli melihat sisi negatif dan kekurangan dari orang yang di benci. Pendek kata cinta dan benci itu sudah ada sebelumya, dan kemudian akan mencari sebanyak mungkin alasan kenapa harus mencintai ataupun membenci.

Pembenci dan pencinta atau lover dan hater bisa menjadi sikap yang bisa diperankan dalam diri yang sama. Jadi seorang pembenci sesuatu otomatis menjadi pencinta sesuatu yang lain, dalam konteks politik misalnya penyinta calon tertentu akan membenci calon yang lain. Namun ada juga penyinta yang tidak membenci, dia hanya fokus pada cintanya hehhehehhe so sweet . Pembenci pun sama, ada juga yang hanya fokus pada orang yang dibenci. Sering muncul istilah “asal bukan dia” karena semua didasari pada ketidak sukaan pada sesuatu , sehingga mengambil sikap “semua baik kecuali dia”

Lover dan hater, pun yang aktif dan pasif, yang pasif paling hanya menyatakan kebencian dan kecintaannya di obrolan ringan dan tidak ada niat untuk mengajak orang lain pada sikapnya. Tetapi bagi yang aktif tentu beda, mereka ini yang memang secara sengaja menggunakan banyak media untuk menyatakan sikapnya. Lalu apa tujuannya , ya untuk mengajak banyak orang untuk menyintai atau membenci. Yang aktif ini yang banyak menggunakan media sosial di era sekarang ini melalu akun nya, atau yang lover dan hater garis keras merasa tak cukup dengan akun nya , akhirnya memelihara akun akun tak jelas yang kadang di sebut anonim dan akun palsu. Woww sungguh militan yang hater dan lover heehhe .

Namun bagi hater dan lover punya kekurangan yang teramat dalam yakni otokritik, ya melihat sisi lain dirinya atau cintanya atau yang dibencinya. Coba aja kritik orang yang dicintai walaupun kritik itu benar, serentetan serangan balik justru yang diluncurkan, berbagai pasal pembenaran pun di ucapkan. Yang jelas orang yang dicinta tak pernah salah, pokoknya seperti malaikat deh ……… ngeri. Sebaiknya bagi pembenci, semua langkah orang yang benci adalah salah, capaian dianggapnya pencintraan, ngibul dll sehingga makin enggakk jelas mana kritik mana ujaran kebencian, sama sama ngeri ya

Tapi ingat tujuan penyampaian sikap ini baik hater dan lover adalah untuk mengajak orang lain bersikap sama , suka untuk benci dan benci untuk suka. Lalu siapa orang lain yang ditarget. Dalam konteks politik mereka yang disebut pemilih atau penonton. Bagi pemilih bagaimanan ikut memilih sesuai pilihannya atau tidak memilih sesuai yang tidak dipilihnya. Pun bagi penonton atau viewer agar menjadi pemilih dan memilih maupun tidak memilih seperti dirinya. Pemilih atau voter kalau dalam survey sebagian sudah terbaca menentukan pilihannya dengan berbagai pertimbangan, ada juga yang sedang mencari pertimbangan untuk menentukan pilihannya. Nah beda lagi bagi penonton, mereka hanya melihat semua sebagai pertunjukan yang kadang tak asyik nan menyebalkan, jadi cukup siapkan tepuk tangan atau sorakan huuuuuuuuuuuuu. Bagi penonton semua hanyalah tontonan yang hadir lima tahunan yang tidak berhubungan dengan kehidupannya.

Pemilih dan penonton ini jadi sasaran rayuan hater dan voter baik dengan dalil dalin rasional maupun emosional. Lalu apakah voter hanya akan menurut kata lover dan hater, bagi sebagian tentu iya akan terbawa langgam yang dinyayikan oleh lover dan hater. Tapi hal ini tentu tidak berlaku bagi pemilih cerdas karena mereka memiliki kemampuan memilah dan memilih, melihat secara proporsional setiap kandidat yang akan dipilih. Toh yang namanya masih manusia, positif dan negatif adalah dua sisi yang ada, kelebihan dan kekurangan adalah fakta, dan semuanya bisa dilihat sesuai porsinya dan tentu saja kita harus adil sejak dalam pikiran karena itu yang sesungguhnya tidak dimiliki oleh lover dan hater.

Andai saja semua adil sejak dalam pikiran, maka pemilu apapun namanya akan Nyaman dan menyenangkan .

Sinam M Sutarno

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menyoal Anjloknya Dana Desa 2026: Di Mana Kedaulatan Desa?

Menyoal Anjloknya Dana Desa 2026:  Di Mana Kedaulatan Desa?  Oleh: Sinam Sutarno  (Pegiat Perkumpulan Dharma Desa) Sejarah mencatat bahwa lahirnya UU No. 6 Tahun 2014 tentang Desa bukan sekadar soal bagi-bagi uang dari Jakarta. Itu adalah momentum kemenangan bagi kedaulatan warga desa untuk menentukan nasibnya sendiri. Tapi hari ini, melihat rincian APBN 2026, saya merasa kita sedang berjalan mundur ke era sentralisme lama. Semangat "Membangun dari Pinggiran" yang dulu digembar-gemborkan pemerintah kini terasa seperti pengkhianatan pada komitmen memperkuat kedaulatan desa. Pemerintah mungkin pamer angka Rp60,57 triliun sebagai pagu Dana Desa tahun 2026. Kelihatannya besar, tapi bagi saya ini jelas pembodohan kalau kita tidak jeli membedah isinya. Dibandingkan tahun lalu yang mencapai Rp71 triliun, angka ini sudah merosot tajam. Namun, masalahnya bukan cuma soal nominal yang susut, tapi soal bagaimana tangan-tangan pusat mulai "menggarong" hak desa dari dala...

Regulasi Radio Darurat di Indonesia

Regulasi Radio Darurat di Indonesia Sinam M Sutarno Relawan Tim Radio Darurat - JRKI Penyelenggara informasi menjadi kewajiban semua orang dalam upaya Penanggulangan Bencana, hal ini termaktub dalam UU No 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan bencana. Di dalam Pasal 27 huruf c menegaskan bahwa “ Setiap orang berkewajiban: memberikan informasi yang benar kepada publik tentang penanggulangan bencana. Informasi yang benar tentu akan sangat menentukan bagaiman proses Penanggulangan bencana berjalan dengan Cepat, tepat dan efektif. Semakin Cepat informasi disampaikan, maka semakin Cepat Tindakan baik penyelamatan, pemenuhan kebutuhan penyintas, evakuasi dan Tindakan lainnya akan berjalan dengan Cepat pula. Dengan Demikian media penyampaian informasi dan komunikasi yang Cepat akan sangat Menunjang bagaimana distribusi informasi dan jalinan komunitas Penanggulangan Bencana bisa berjalan dengan baik. Salah satu media yang bisa jadi jembatan informasi dan komunikasi Penanggulangan bencana ...

Kudu Gugat Sopo

Sik sik sik  Sakjane opo to karepmu Jare nyuwun karahayon, keslametan  Urip aduh soko beboyo Nir ing sambikolo Nanging  Tindak tandukmu Solah tingkahmu Adoh, adoh soko panyuwunanmu iku Malah sajak ngawe awe tekane ciloko  Hanggadang  gadang praptane beboyo Siro entengake karahayon iku Among pamrih kamulyan semu Bumi den pulosoro Den keduk den keruk kanti murang toto Babar blas tanpo subo sito Yo ngono kuwi anggonmu bekti marang Ibu Bumi Opo maneh yen mung kancintrakaning liyan Wis mesti wae siro kiwakno Jane yo ora kurang kurang Wisiking gusti ing jagat gumelar Nanging pancen siro budeg Nyoto nalarmu cubluk Lan atimu wis remuk Nanging aku ora kelangan pangarep arep Muga muga ndang bali warasmu Bali marang urip sejatimu Kang rinengkuh welas asihing Gusti Nyawiji marang Ibu Pertiwi Solo 12 April 2016,  @Sinam_MS  Harus Gugat Siapa Sebentar sebentar Apa sih maumu Katanya m...